Bandarkarima Network!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Bandarkarima

Sejarah PSP Bandarkarima

E-mail Print PDF

LATAR BELAKANG SEJARAH MAENPO CIKALONG & SABANDAR

Tersebutlah seorang bangsawan bernama Rd. Ateng Alimudin, seorang tokoh dan jago silat yang sudah malang melintang di kawasan Jatinegara, Betawi pada awal abad ke 20. Seorang diri beliau pernah menumpas kerusuhan yang ditimbulkan oleh para jagoan Cina pengawal kereta pengiriman barang (Piawsu).
Rd. Ateng Alimudin dengan Golok si Gobang pegangannya  menjadi legenda di jaman itu.

Rd. Ateng Alimudin memiliki adik ipar bernama Rd. H. Ibrahim, sekaligus merupakan muridnya yang paling cemerlang. Setelah mewarisi semua ilmunya, Rd. Ateng Alimudin kemudian  menyarankan Rd. H. Ibrahim memperkaya ilmunya dengan berguru kepada Bang Madi dan Bang Ma'ruf di Batavia dan Bang Kari di Tangerang. Dari merekalah Rd. H. Ibrahim menyempurnakan karakter kecepatan gerak dan kekuatan lahir bathin ilmu silatnya.

Selesai berguru di Batavia dan Tangerang, Rd. H. Ibrahim kembali ke kampung halamannya di Cikalong dan kemudian mengajarkan ilmunya di kalangan terbatas, yaitu para bangsawan Cianjur. Rd. H. Ibrahim menyadari bahwa pada tingkatan yang tinggi, latihan beladiri menjadi sangat berbahaya bagi para muridnya. Kemudian dengan pemikirannya yang brilian, diciptakanlah metode latihan yang aman namun efektif, yaitu metode usik dan tapelan.

Suatu ketika, takdir mempertemukan murid-murid Rd. H. Ibrahim dengan H. Muhammad Kosim, seorang pendekar pengelana dari Padang. H.M. Kosim merupakan pelatih silat dikalangan keluarga kerajaan Pagaruyung. Karena melanggar pantangan kerajaan, yaitu mengajarkan silat ke luar lingkungan istana, maka H.M. Kosim kemudian dikucilkan dan dibuang dari lingkungan kerajaan Pagaruyung. Dalam pengembaraannya, sampailah H.M. Kosim di kampung Sabandar, Cianjur.

H.M. Kosim bekerja di perkebunan kelapa milik Rd. H. Enoh, salah seorang murid senior Rd. H. Ibrahim. Saat Rd. Enoh berlatih bersama kawan2nya, H.M. Kosim dengan seksama memperhatikan. Merasa terusik dengan kehadirannya, lantas Rd. Enoh mengajak untuk berlatih bersama. Berawal dari main-main, kemudian berkembang menjadi perkelahian dahsyat. Betapapun juga Rd. Enoh mengerahkan segenap kemampuannya menyerang, tidak sedikitpun dapat menyentuh H.M. Kosim. Akhirnya Rd. Enoh mengakui kehebatan H.M. Kosim dan mulai berguru kepadanya. Disinilah H.M. Kosim mulai memberikan pengaruhnya dan memperkaya karakter ilmu silat murid-murid Rd. H. Ibrahim, yaitu karakter gerak yang lentur dan efisien.

Tentu saja Rd. H. Ibrahim dapat mengetahui perubahan karakter gerak murid2nya. Kemudian Rd. H. Ibrahim mengundang H.M. Kosim untuk "berdiskusi" di perkebunan kelapa milik Rd. H. Enoh di kampung Sabandar. Setelah bersambut tangan, akhirnya keduanya menyadari kehebatan ilmu masing-masing. Sejak itulah H.M. Kosim mulai disegani di kalangan pendekar Cianjur. Di kemudian hari beliau lebih dikenal dengan panggilan hormat sebagai Mamak Sabandar.

BAPAK H.M. YOSIS SISWOYO

Bpk. H.M. Yosis Siswoyo dilahirkan di Bandung, 25 Nopember 1943. Lahir dan tumbuh di tengah-tengah kancah perang kemerdekaan dan revolusi, menjadikan beliau seorang pemuda yang pemberani dan pantang menyerah.

Ayahanda Pak Yosis yang arif, Pak Anwar, kemudian menyalurkan kesenangan berkelahi dan energi anaknya yang meluap-luap dengan mengirim Pak Yosis kepada beberapa guru silat ternama. Pak Anwar adalah seorang perwira polisi dan juga ketua pendekar Gagak Lumayung pada saat itu. Sejak itulah Pak Yosis menimba ilmu silat dari satu guru ke guru lainnya. Dari belasan tokoh2 silat yang telah menurunkan ilmunya, terdapat dua tokoh silat yang sangat besar pengaruhnya dalam membentuk ilmu silat Pak Yosis, yaitu Raden Popo Sumadipradja dan Raden Ateng Karta.

Awalnya Pak Yosis digembleng oleh murid2 Den Popo, yaitu Pak Casmedi dan Pak Yayat. Barulah setelah dirasa cukup, Pak Yosis kemudian diajar langsung oleh Den Popo. Den Popo adalah anak seorang tokoh maenpo yang bernama Raden Utuk. Berdasarkan silsilahnya, Den Utuk merupakan murid dari Raden Obing Ibrahim. Uniknya, Den Popo tidak mendapat pelajaran maenpo dari ayahnya. Beliau justru diajar oleh murid2 Den Obing yang lain sebelum akhirnya mendapat pelajaran langsung dari Den Obing Ibrahim.

Kemudian Pak Yosis melengkapi ilmu silatnya dengan berbagai ilmu olah bathin dan olah kanuragan dari Den Ateng Karta. Den Ateng Karta merupakan jawara silat yang ditakuti karena kesaktiannya. Bola matanya berwarna merah darah, tak ada senjata yang mampu melukai tubuhnya, batu kali sebesar kepala bagai kerupuk ditangannya. Karakter ilmunya yang luar biasa tersebut sempat mempengaruhi satu episode kehidupan Pak Yosis pada masa mudanya.

Setelah itu Pak Yosis terus memperkaya dan mematangkan ilmu silatnya, sehingga pada akhirnya berhasil merangkum dan merumuskan kembali karakter ilmu silat yang efektif dan efisien.

PERGURUAN SENI PENCAK BANDARKARIMA

Pada era tahun 60-an beladiri asing berkembang dengan pesat di Indonesia. Prihatin dengan kondisi tersebut, Pak Yosis terdorong untuk mengangkat pamor Pencak Silat sebagai budaya asli Indonesia yang bernilai tinggi dan harus dikembangkan. Maka pada bulan Juni 1967 dibentuklah unit latihan Bandarkarima di SMAN 3 Bandung dengan anggota pertama sebanyak 60 orang. Sejak itulah secara resmi lahir Perguruan Seni Pencak Bandarkarima, dan tanggal 6 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Bandarkarima.

Bandarkarima adalah akronim dari Sabandar, Kari dan Madi, yaitu tiga aliran utama yang melandasi karakter PSP Bandarkarima. Sabandar memiliki karakter gerak yang lentur dan efisien. Kari lebih menekankan karakter gerak yang cepat dan keras. Madi membangun karakter gerak yang bertenaga penuh dengan kekuatan.

Pendekar Bandarkarima digembleng untuk menjadi petarung ulung di bidangnya masing-masing. Tidak heran mereka umumnya menjadi pribadi-pribadi yang unggul di lingkungannya. Para pendekar senior angkatan-angkatan awal mampu mencapai posisi-posisi puncak dalam karir mereka, baik di militer, perusahaan, maupun pemerintahan. Namun sayang pertarungan dalam karir telah menyita seluruh waktu mereka, sehingga perhatian terhadap kelangsungan dan perkembangan perguruan menjadi terlupakan. Setelah mengalami masa puncaknya di tahun 80 an, kegiatan perguruan nyaris vakum di tahun 90 an. Untuk mengisi kekosongan, Pak Yosis mendirikan Sasana Tinju Anak Bandung yang kemudian melahirkan pendekar tinju kebanggaan Indonesia, Alfaridzi dan Arief Almahdi.

Memasuki milenium baru ini, beberapa orang pendekar senior terpanggil untuk kembali merintis pengembangan Bandarkarima, sebagai wujud kepedulian mereka terhadap pendidikan anak bangsa. Melalui penggemblengan fisik dan mental di lingkungan keluarga besar Bandarkarima, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi unggul seperti tertuang dalam Sifat Pendekar Bandarkarima:

Pendekar itu:

Kuat lahir dan bathin

Pemberani dan ksatria

Bijaksana dan sopan santun

Berbudi luhur dan kasih sayang

Penuh cinta dan berbakti pada Tuhan,

Bangsa dan tanah air, dan peri kemanusiaan

Salam Pendekar!

Last Updated on Sunday, 07 March 2010 11:14  

Sekilas Info

Komunitas sahabat silat yang tergabung dalam Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia, mencanangkan Gerakan Peduli Silat pada tahun 2010 ini. Berbagai kegiatan telah ditetapkan sebagai rencana kerja jangka panjang untuk mengembalikan pencak silat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sosialisasi pencak silat disepakati dimulai dari lingkungan keluarga masing-masing.